Tanjabtimur-
Tahun 2025 perlahan menutup dirinya, seperti senja yang enggan pergi namun tak bisa ditahan. Ia meninggalkan jejak-jejak yang tidak selalu rapi, harapan yang tumbuh, kegelisahan yang mengendap, serta pertanyaan-pertanyaan yang belum seluruhnya menemukan jawaban.
Negeri ini kembali belajar bahwa perjalanan sebuah bangsa bukanlah garis lurus, melainkan jalan berliku yang menuntut kesabaran, keberanian, dan kejujuran untuk terus bercermin.
Di sepanjang 2025, kita menyaksikan bagaimana negeri ini terus bergerak di tengah perubahan dunia yang cepat dan sering kali tak ramah. Tantangan ekonomi, dinamika sosial, perbedaan pandangan, serta tuntutan zaman digital hadir bersamaan, memaksa kita untuk beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Ada kemajuan yang patut disyukuri, kerja keras banyak tangan yang tak terlihat, inovasi anak bangsa, dan daya tahan masyarakat dalam menghadapi ketidakpastian.
Namun ada pula luka-luka sosial yang mengingatkan kita bahwa pembangunan bukan hanya soal angka, melainkan soal rasa keadilan dan keberpihakan pada kemanusiaan.
Tahun ini juga mengajarkan bahwa persatuan bukanlah sesuatu yang otomatis ada. Ia harus dirawat, dijaga, dan diperjuangkan setiap hari. Perbedaan pendapat yang muncul di ruang publik, baik di dunia nyata maupun di layar gawai, menjadi cermin kedewasaan kita sebagai bangsa.
Apakah kita memilih mendengar sebelum menghakimi? Apakah kita mampu berbeda tanpa saling meniadakan? 2025 seolah bertanya dengan tegas, sejauh mana kita benar-benar memahami makna “bersama” dalam kehidupan bernegara.
Di balik segala hiruk-pikuk, ada suara rakyat kecil yang tidak boleh tenggelam. Mereka yang bekerja sejak pagi, yang menjaga keluarga di tengah keterbatasan, yang berharap negara hadir bukan hanya lewat janji, tetapi lewat kebijakan yang nyata dan adil.
Refleksi 2025 mengingatkan kita bahwa kemajuan sejati sebuah negeri diukur dari seberapa bermartabat warganya hidup, bukan dari seberapa megah pencapaiannya terlihat dari jauh.
Kini, 2026 berdiri di depan kita sebagai lembaran baru—masih kosong, belum ternoda, namun penuh kemungkinan.
Menyambutnya bukan berarti melupakan 2025, melainkan membawa pelajarannya sebagai bekal. Tahun depan menuntut kita untuk lebih berani memperbaiki yang keliru, lebih jujur mengakui kekurangan, dan lebih sungguh-sungguh menjaga amanah yang telah dipercayakan.
Harapan untuk 2026 bukanlah harapan yang muluk. Ia sederhana namun mendasar: negeri yang lebih adil, lebih mendengar, dan lebih manusiawi. Pemerintahan yang bekerja dengan nurani, masyarakat yang saling menguatkan, serta generasi muda yang tumbuh dengan nilai integritas dan empati.
Kita berharap 2026 menjadi tahun di mana perbedaan tidak lagi menjadi alasan perpecahan, melainkan sumber kekayaan berpikir dan bertindak.
Menyongsong 2026, mari kita melangkah dengan ingatan yang jernih dan hati yang rendah. Negeri ini tidak dibangun oleh satu golongan, satu suara, atau satu generasi saja, melainkan oleh kesediaan kita semua untuk belajar dari masa lalu dan bertanggung jawab atas masa depan. Jika 2025 adalah tahun pembelajaran, maka 2026 semoga menjadi tahun pemantapan, di mana kata dan perbuatan semakin sejalan.
Pada akhirnya, refleksi dan harapan ini bukan sekadar rangkaian kata penutup tahun. Ia adalah ajakan sunyi namun tegas: untuk tetap percaya pada negeri ini, sambil terus bekerja agar kepercayaan itu layak dipertahankan.
Dengan langkah yang mungkin belum sempurna, namun niat yang terus diperbaiki, kita menyambut 2026 dengan keyakinan bahwa masa depan bangsa ini masih bisa kita tulis bersama, dengan lebih bijak, lebih adil, dan lebih beradab.(BSG).

















Discussion about this post