RJ.COM – Artha Band, grup musik asal Kota Baru, Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, kembali mencuri perhatian publik. Band yang pernah berjaya pada era 1980-an hingga awal 1990-an itu dikenal sebagai pengisi utama berbagai hajatan dan pesta rakyat di wilayah Inhil, sebelum akhirnya vakum seiring perubahan tren hiburan.
Pada masanya, Artha Band menjadi ikon hiburan masyarakat pesisir Inhil. Ketika hiburan digital dan organ tunggal belum berkembang, kehadiran band dengan formasi lengkap dianggap sebagai kemewahan. Berbasis di Kota Baru, Artha Band tampil dengan peralatan musik yang sederhana, namun mampu menyuguhkan pertunjukan yang memikat penonton.
Puncak popularitas Artha Band terjadi pada kurun waktu 1980 hingga awal 1990-an. Grup musik yang dipimpin almarhum H. Jumri ini hampir selalu hadir dalam berbagai kegiatan besar, baik pesta pernikahan, perayaan hari besar nasional, maupun hiburan rakyat di Inhil Selatan dan Inhil Utara.
“Kalau ada hajatan dan yang tampil Artha Band, penontonnya bisa membludak sampai ke jalan. Bahkan warga dari kampung lain rela datang naik pompong pada malam hari hanya untuk menonton,” ujar Pak Tam, warga Kota Baru yang menyaksikan langsung kejayaan Artha Band.
Ciri khas Artha Band terletak pada kemampuannya membawakan beragam genre musik, mulai dari pop, rock klasik, hingga dangdut. Permainan gitar yang kuat dan ketukan drum yang enerjik menjadi identitas mereka di atas panggung.
Salah satu personel lama Artha Band, Regar Artha, mengenang padatnya jadwal manggung pada masa itu.
“Hampir tidak ada waktu istirahat. Kami keliling dari satu tempat ke tempat lain. Dalam sebulan, mungkin hanya libur tiga atau empat hari,” kenangnya.
Meski kini tren musik telah bergeser ke arah digital, jejak Artha Band tetap membekas di ingatan masyarakat. Bagi para personelnya, band ini bukan sekadar wadah bermusik, tetapi juga ruang kebersamaan dan kekeluargaan.
Agus, keyboardis Artha Band sekaligus putra dari almarhum H. Jumri, mengatakan Artha Band memiliki nilai kebersamaan yang kuat.
“Artha Band bukan hanya grup musik, tapi keluarga. Kami terbiasa bekerja sama, mulai dari mengangkut hingga menata peralatan musik,” kata Agus yang kini berdomisili di Bagan Siapi-api, Kabupaten Rokan Hilir.
Keberadaan Artha Band juga menjadi bagian dari sejarah perkembangan musik di Kota Baru, sekaligus bukti bahwa talenta lokal dari daerah pesisir mampu menghadirkan hiburan berkualitas.
Memasuki era modern, Artha Band kembali tampil dengan konsep yang lebih segar tanpa meninggalkan ciri khas mereka. Di bawah kepemimpinan Abi Jumri, putra dari pimpinan terdahulu, Artha Band mengusung aransemen musik yang lebih modern dan dinamis.
“Ini adalah bentuk pendewasaan bermusik Artha Band. Kami tetap Artha yang sama, tetapi dengan energi yang lebih besar,” ujar Abi Jumri.
Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari aransemen musik, tetapi juga dari tata panggung. Artha Band kini didukung sistem tata suara dan pencahayaan yang lebih modern untuk memberikan pengalaman audio-visual yang maksimal kepada penonton.
“Kami tidak hanya ingin bernyanyi, tetapi menyuguhkan pertunjukan visual dan audio terbaik bagi masyarakat Inhil,” tambah Abi Jumri.
Operator lighting dan visual Artha Band, Wawan, menegaskan bahwa kualitas pertunjukan menjadi perhatian utama.
“Walaupun kami berasal dari daerah, kami ingin menunjukkan bahwa kualitas sound system dan lighting kami bisa setara dengan grup besar di provinsi tetangga,” ujarnya.
Kembalinya Artha Band dengan konsep baru ini diharapkan mampu memberi warna tersendiri bagi industri hiburan lokal serta menjadi inspirasi bagi musisi muda di Indragiri Hilir. (*)

















Discussion about this post