Asap Mulai Kepung Perkantoran Tanjab Timur, 258 Karhutla Tercatat, Warga Diminta Waspada

Tanjab Timur –
Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jumat (4/9/2026) pagi. Sekitar pukul 09.00 WIB, asap terlihat menutupi kawasan perkantoran pemerintahan daerah. Kondisi tersebut menjadi alarm serius di tengah karhutla yang hingga kini belum sepenuhnya terkendali.

Warga yang hendak beraktivitas di luar rumah pun diimbau menggunakan masker sebagai langkah antisipasi terhadap paparan asap.

Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanjung Jabung Timur, hingga Kamis (3/9/2026), sedikitnya 258 kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah terjadi di sejumlah wilayah.
Angka tersebut bukan lagi sekadar persoalan titik api di kawasan yang jauh dari permukiman.

Dampaknya mulai terasa langsung oleh masyarakat, salah satunya dengan munculnya asap yang menyelimuti kawasan perkantoran.

Di sisi lain, puluhan titik api masih terpantau. Kondisi lahan gambut yang semakin kering, ditambah cuaca panas dan angin, membuat proses pemadaman menjadi pekerjaan yang tidak mudah.

Kepala Pelaksana BPBD Tanjung Jabung Timur, Amri Juardy, mengatakan tim gabungan penanganan karhutla masih terus melakukan pemantauan dan pemadaman di sejumlah lokasi.

Menurutnya, sumber api masih terdeteksi di beberapa wilayah sehingga penanganan harus dilakukan secara berkelanjutan untuk mencegah api meluas.
Sebagian lahan yang terbakar, kata Amri, merupakan area perkebunan milik masyarakat.

Namun, persoalan karhutla di Tanjung Jabung Timur kini bukan hanya soal bagaimana memadamkan api setelah kebakaran terjadi. Yang lebih penting adalah bagaimana mencegah kebakaran terus berulang, terutama di tengah kondisi gambut yang semakin rentan terbakar.

Dengan 258 kasus yang telah tercatat, upaya pencegahan menjadi tantangan yang tidak kalah besar dibandingkan proses pemadaman.

BPBD pun kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka, membersihkan maupun mengolah lahan dengan cara membakar.

Masyarakat juga diminta tidak menunggu api membesar. Jika menemukan titik api maupun kepulan asap di sekitar lingkungan, warga diminta segera melaporkannya kepada petugas.
Kecepatan laporan dinilai sangat menentukan. Sebab, kebakaran yang terlambat ditangani di lahan gambut berpotensi sulit dikendalikan dan dapat meluas ke area lainnya.

Karhutla yang terus berulang juga membawa konsekuensi yang lebih luas. Bukan hanya kerusakan lingkungan dan ancaman terhadap lahan masyarakat, tetapi juga munculnya kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan serta aktivitas warga.

Kini, ketika asap mulai terlihat di kawasan perkantoran pada pagi hari, persoalannya menjadi semakin jelas karhutla bukan lagi sekadar ancaman di atas lahan gambut, tetapi sudah mulai mengetuk langsung ruang aktivitas masyarakat.

Warga pun diminta meningkatkan kewaspadaan, membatasi aktivitas di luar rumah jika kondisi asap memburuk, serta menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar ruangan.(BSG).