Tanjab Timur –
Tanggal 1 Oktober kembali menyapa kita. Hari Kesaktian Pancasila. Hari di mana kita diingatkan, bahwa ideologi bangsa ini pernah berada di ujung tanduk, namun tetap tegak berdiri berkat pengorbanan dan cinta yang tulus kepada negeri.
Namun, sudahkah kita benar-benar memaknai kesaktian itu?. Hari Kesaktian Pancasila seharusnya tidak berhenti pada barisan rapi saat upacara, pada hening cipta, atau pada khidmatnya pembacaan ikrar. Makna sejatinya justru hidup setelah upacara usai, ketika kita kembali ke meja kerja masing-masing.
Kesaktian Pancasila hadir ketika seorang pejabat memilih jujur meski ada kesempatan untuk curang. Kesaktian itu hadir ketika anggaran untuk pendidikan anak-anak kita, untuk jalan desa, untuk obat di puskesmas, benar-benar sampai utuh kepada yang berhak.
Di situlah Pancasila menjadi manis. Ia tidak lagi menjadi teks di dinding kantor, tapi menjadi napas dalam setiap kebijakan.
Kita sering lupa, bahwa merusak Pancasila hari ini tidak perlu dengan senjata. Cukup dengan mengurangi keadilan, dengan menunda bantuan untuk mereka yang membutuhkan, dengan mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan rakyat, maka nilai Pancasila itu perlahan luntur.
Padahal, jika kita mau jujur, generasi bangsa ini tumbuh dari keteladanan. Anak-anak kita tidak hanya butuh cerita tentang hebatnya Pancasila, mereka butuh melihat Pancasila itu hidup dalam diri pemimpinnya: pemimpin yang bersih, yang peduli, dan yang tulus.
Mari di Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026 ini, kita jadikan momentum untuk mempermanis kembali janji kita kepada bangsa. Bukan dengan kata-kata yang indah saja, tapi dengan kerja yang bersih dan hati yang jujur.
Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang merawat ideologinya dengan ketulusan, bukan hanya dengan seremonial belaka.(BSG).
