Tak Ingin Mimpi Anak Terhenti, Bupati-Wabup Tanjab Timur Buka Jalan 270 Anak Lewat Sekolah Rakyat

Tanjabtimur –
Mimpi yang sempat hampir terkubur karena keterbatasan ekonomi, kini kembali hidup. Sebanyak 270 anak dari keluarga kurang mampu di Kabupaten Tanjung Jabung Timur akhirnya mendapatkan kesempatan untuk kembali bersekolah melalui program Sekolah Rakyat Terintegrasi Satu.

Bagi mereka, sekolah bukan sekadar tempat belajar. Lebih dari itu, sekolah menjadi jalan untuk membuka kembali pintu masa depan yang sebelumnya terasa begitu jauh.

Kamis, 30 Juli 2026, menjadi hari yang penuh makna bagi ratusan siswa tersebut. Mereka mulai memasuki asrama Sekolah Rakyat untuk menjalani kehidupan dan pendidikan baru.

Wajah ceria, rasa penasaran, sekaligus semangat terlihat dari para siswa yang sebelumnya sempat dihadapkan pada persoalan ekonomi keluarga. Kini, mereka kembali mengenakan seragam sekolah dan duduk di bangku pendidikan untuk mengejar cita-cita masing-masing.

Salah satunya adalah Suci, remaja berusia 19 tahun asal Kecamatan Geragai. Karena
keterbatasan ekonomi keluarga sempat membuat Suci harus menghadapi kenyataan pahit. Keinginannya untuk melanjutkan pendidikan bahkan nyaris terhenti.

Namun, kehadiran Sekolah Rakyat kembali memberikan harapan. Suci kini dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA sederajat dan kembali menata mimpinya. Cita-citanya pun sederhana namun mulia. Sejak kecil, Suci bercita-cita menjadi seorang guru bahasa Inggris.
Kini, cita-cita tersebut kembali berada di depan matanya.

Cerita serupa datang dari Ahmad Rahul, siswa asal Kecamatan Nipah Panjang. Kondisi ekonomi keluarga sempat menjadi penghalang bagi Rahul untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.

Kesempatan melalui Sekolah Rakyat membuat Rahul kembali memiliki keyakinan bahwa masa depannya masih panjang.
Ia pun membawa sebuah cita-cita besar: menjadi Prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Bagi Suci dan Rahul, Sekolah Rakyat bukan hanya memberikan ruang untuk belajar, tetapi juga memberikan kesempatan untuk kembali bermimpi.

Sekolah Rakyat Terintegrasi Satu Tanjung Jabung Timur dirancang tidak hanya untuk mengejar kemampuan akademik siswa. Pendidikan juga diarahkan untuk membangun karakter, kemandirian, kedisiplinan dan kepedulian sosial.

Para siswa dibiasakan melakukan berbagai kegiatan secara mandiri. Mulai dari merapikan kamar, menjaga kebersihan, mengikuti aturan, hingga membangun sikap saling menghormati antara sesama siswa maupun kepada guru.

Dengan pola pendidikan tersebut, para siswa diharapkan tidak hanya tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan mampu menghadapi tantangan kehidupan.

Sebanyak 270 siswa dari jenjang SD hingga SMA sederajat kini mulai menjalani kehidupan di lingkungan Sekolah Rakyat. Mereka selanjutnya akan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama dua pekan sebagai tahap awal beradaptasi dengan lingkungan pendidikan dan kehidupan asrama.

Hadirnya Sekolah Rakyat di Tanjung Jabung Timur tidak terlepas dari kerja keras Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur di bawah kepemimpinan Bupati Dilla Hikmah Sari dan wakil Bupati Muslimin Tanja.

Program ini menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, termasuk mereka yang sebelumnya menghadapi risiko putus sekolah karena persoalan ekonomi.

Pemerintah daerah berupaya memastikan bahwa kondisi ekonomi tidak menjadi penghalang bagi anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Sebab, pendidikan merupakan modal utama untuk membangun masa depan. Melalui pendidikan, seorang anak tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi, membangun karakter dan meningkatkan kualitas kehidupannya.

Sekolah Rakyat pun diharapkan menjadi jembatan bagi anak-anak Tanjung Jabung Timur untuk kembali meraih masa depan yang lebih cerah.

Tidak ada lagi mimpi yang harus berhenti hanya karena keterbatasan biaya. Di tempat ini, 270 anak kembali menemukan semangat belajar. Mereka datang membawa cerita masing-masing, tetapi memiliki harapan yang sama menyelesaikan pendidikan, meraih cita – cita dan mengubah masa depan.(BSG).